Monday, March 30, 2020

Pengertian Islam Menurut Istilah dan Al Qur’an



Penjelasan apa itu Islam

     ISLAM sering diidentikkan dengan perilaku kaum Muslim atau umat Islam. Padahal, sebagaimana perilaku penganut agama lainnya, perilaku seorang Muslim belum tentu mencerminkan ajaran atau syariat Islam itu sendiri. Banyak orang beragama Islam namun perilakunya tidak mencerminkan apa-apa yang diajarkan dalam agama Islam itu sendiri. Beragama Islam berarti mencoba menjadi seseorang beragama yang patuh terhadap Allah; sebuah kepatuhan yang idealnya terwujud dalam beragam tindakan, khususnya dalam perbuatan baik. Umat Islam meyakini bahwa Ibrahim adalah penganut agama Islam; seperti telah diketahui, hidupnya adalah teladan dan pantas ditiru.
     Islam adalah agama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril, untuk menjadi pedoman hidup seluruh manusia hingga akhir zaman. Nabi Muhammad SAW merupakan Nabi dan Rasul akhir zaman karena setelah beliau tidak ada lagi Rasul lainnya. Disini Islam adalah hanya mengimani satu tuhan yaitu Allah SWT. Banyaknya nabi yang diutus Allah dengan membawa agamaNya untuk umat dan zaman yang berbeda-beda tidaklah berarti bahwa agama Allah itu banyak sebab seluruh millah atau ajaran yang dibawa oleh para nabi di bawah satu panji yakni Islam. 
     Agama adalah percaya adanya Tuhan yang maha esa dan mempercayai hukum hukumnya. 
Makna agama Islam dibagi menjadi dua yaitu agama samawi dan agama ardhi. Agama samawi adalah agama yang di turunkan di langit dan di yakin bahwa agama tersebut berasal dari Allah dan meliputi islam,Nasrani ,dan Yahudi. Agama ardhi adalah agama yang berkembang berdasarkan daya, daerah dan pemikiran seseorang melalui perantara yang di terima secara global.

Islam dalam Al-Qur’an

     Dalam al-Quran kata salam terulang sebanyak 42 kali,dan  kata Islam terulang sebanyak 8 (delapan) kali, ada 2 (dua) ayat kata Islam digandengkan dengan ism dhamir hum (mereka) dan kum (kalian). Sedang dalam kata aslama dan derivisinya terdapat pada 23 ayat al-Quran, yang semua maknanya berkaitan dengan ketundukan kepada Allah, kecuali hanya pada QS. al-Fath (48): 16, kata yuslimūn diartikan sebagai ungkapan menyerah dalam peperangan.
     Untuk melihat makna Islam yang dimaksud pada ayat al-Quran, perlu dikaitkan dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan kata tersebut, supaya kita tidak terjebak pada doktrin Islam sebagai agama. Kita memahami Islam sebagaimana yang dimaksudkan al-Quran iu sendiri. Dalam QS Ali Imran : 19

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya : “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam, tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi kitab kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sungguh, Allah sangat cepat perhitungannya” (QS Ali Imran : 19)

     Setelah melihat terjemahan ayat tersebut, melahirkan sebuah paradigma dalam umat Islam bahwa hanya Islam-lah agama yang diterima Allah SWT. Padahal apabila kita perhatikan rangkaian kalimat setelahnya, tentu dapat dilihat bahwa ayat tersebut berbicara tentang umat terdahulu. Sebab setelah Nabi Muhammad SAW tidak turun kitab suci lainnya. Berarti ayat tersebut berbicara terkait umat Nabi sebelum Rasulullah. 
     Islam merupakan ketundukan kepada Allah Yang Maha Esa dan tidak ada Tuhan selain Allah SWT, dengan mengikuti ajaran para nabi serta didukung dengan kemukjizatan yang meyakinkan bagi para umatnya. Hanya saja Islam yang ada pada para nabi sebelum Rasulullah SAW adalah Islam secara sifat, sedangkan pada umat Rasulullah SAW merupakan Islam secara sifat dan juga sebagai sebuah identitas agama. Identitas berarti seseorang yang mengaku beragama Islam maka harus menjalankan seluruh ajaran Islam itu serta menjauhi larangan-larangan dalam agama. Karena seseorang yang benar-benar mengakui Islam dalam hatinya akan mengikrarkan secara lisan, meyakini didalam hatinya dan mengamalkan dalam perbuatan. 

Tiga Amal Baik


Kita semua terlahir dari keturunan Adam As sebagai Khalifah fil Ardl yakni merupakan satu kepercayaan terbesar yang diberkan Allah Swt kepada Manusia. Bumi yang kita tempati adalah planet yang selalu berputar, ada siang dan ada malam. Roda kehidupan dunia juga tidak pernah berhenti. Kadang naik kadang turun. Ada suka ada duka. Ada senyum ada tangis. Kadangkala dipuji tapi pada suatu saat kita dicaci. Jangan harapkan ada keabadian perjalanan hidup.
Oleh sebab itu, agar tidak terombang-ambing dan tetap tegar dalam menghadapi segala kemungkinan tantangan hidup kita harus memiliki pegangan dan amalan dalam hidup. Kesempatan ini akan saya bahas tentang “Tiga Amalan Baik”. Tiga amalan baik tersebut adalah Istiqomah, Istikharah dan Istighfar
1. Istiqomah. 
yaitu kokoh dalam aqidah dan konsisten dalam beribadah. Begitu pentingnya istiqomah ini sampai Nabi Muhammad SAW berpesan kepada seseorang seperti dalam Al-Hadits yang artinya:
 “Dari Abi Sufyan bin Abdullah Radhiallaahu anhu berkata: Aku telah berkata, “Wahai Rasulullah katakanlah kepadaku pesan dalam Islam sehingga aku tidak perlu bertanya kepada orang lain selain engkau. Nabi menjawab, ‘Katakanlah aku telah beriman kepada Allah kemudian beristiqamahlah’.” (HR. Muslim).
Orang yang istiqamah selalu kokoh dalam aqidah dan tidak goyang keimanan bersama dalam tantangan hidup. Sekalipun dihadapkan pada persoalan hidup, ibadah tidak ikut redup, kantong kering atau tebal, tetap memperhatikan haram halal, dicaci dipuji, sujud pantang berhenti, sekalipun ia memiliki fasilitas kenikmatan, ia tidak tergoda melakukan kemaksiatan. Orang seperti itulah yang dipuji Allah Subhannahu wa Ta'ala yang tertuang dalam Al-Qur-an surat Fushshilat ayat 30: 

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَٰمُواْ تَتَنَزَّلُ عَلَيۡهِمُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُواْ وَلَا تَحۡزَنُواْ وَأَبۡشِرُواْ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِي كُنتُمۡ تُوعَدُونَ ٣٠ 
Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatahkan): “Janganlah kamu merasa takut, dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah dengan syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Qs. Fushshilat: 30)
2. Istikharah 
Yang memiliki makna selalu mohon petunjuk Allah dalam setiap langkah dan penuh pertimbangan dalam setiap keputusan. Setiap orang mempunyai kebebasan untuk berbicara dan melakukan suatu perbuatan. Akan tetapi menurut Islam, tidak ada kebebasan yang tanpa batas, dan batas-batas tersebut adalah aturan-aturan agama. Maka seorang muslim yang benar, selalu berfikir berkali-kali sebelum melakukan tindakan atau mengucapkan sebuah ucapan serta ia selalu mohon petunjuk kepada Allah.
Rasulullah bersabda yang artinya:
 “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diamlah”. (HR. Al-Bukhari).
Kalau ucapan itu tidak baik apalagi sampai menyakitkan orang lain maka tahanlah, jangan diucapkan, sekalipun menahan ucapan tersebut terasa sakit. Tapi ucapan itu benar dan baik maka katakanlah jangan ditahan sebab lidah kita menjadi lemas untuk bisa meneriakkan kebenaran dan keadilan serta menegakkan amar ma’ruf nahi munkar. 
Mengenai kebebasan ini, malaikat Jibril pernah datang kepada Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam untuk memberikan rambu-rambu kehidupan, beliau bersabda: Yang artinya: ”Jibril telah datang kepadaku dan berkata: Hai Muhammad hiduplah sesukamu, tapi sesungguhnya engkau suatu saat akan mati, cintailah apa yang engkau sukai tapi engkau suatu saat pasti berpisah juga dan lakukanlah apa yang engkau inginkan sesungguhnya semua itu ada balasannya”. (HR.Baihaqi dari Jabir)
Sabda Nabi Shalallaahu alaihi wasalam ini semakin penting untuk diresapi ketika akhir-akhir ini dengan dalih kebebasan, banyak orang berbicara tanpa logika dan bertindak sekehendakya tanpa mengindahkan etika agama.
Para pakar barangkali saat-saat ini, lebih bijaksana untuk banyak mendengar daripada berbicara yang kadang-kadang justru membingungkan masyarakat. Kita memasyarakatkan istikharah dalam segala langkah kita, agar kita benar-benar bertindak secara benar dan tidak menimbulkan kekecewaan di kemudian hari karena sikap istikharah tidak akan membuat orang merugi dan akan terbiasa untuk hidup hemat

3. Istighfar
yaitu selalu instropeksi diri dan mohon ampunan kepada Allah. Setiap orang pernah melakukan kesalahan baik sebagai individu maupun kesalahan sebagai sebuah bangsa. Setiap kesalahan dan dosa itu sebenarnya penyakit yang merusak kehidupan kita. Oleh karena ia harus diobati. Tidak sedikit persoalan besar yang kita hadapi akhir-akhir ini yang diakibatkan kesalahan kita sendiri. Saatnya kita instropeksi masa lalu, memohon ampun kepada Allah, melakukan koreksi untuk menyongsong masa depan yang lebih cerah dengan penuh keridloanNya.
Dalam persoalan ekonomi, jika rizki Allah tidak sampai kepada kita disebabkan karena kemalasan kita, maka yang diobati adalah sifat malas itu. Kita tidak boleh menjadi umat pemalas. Malas adalah bagian dari musuh kita. Jika kesulitan ekonomi tersebut, karena kita kurang bisa melakukan terobosan-terobosan yang produktif, maka kreatifitas dan etos kerja umat yang harus kita tumbuhkan. 
Akan tetapi adakalanya kehidupan sosial ekonomi sebuah bangsa mengalami kesulitan. Kesulitan itu disebabkan karena dosa-dosa masa lalu yang menumpuk yang belum bertaubat darinya secara massal. Jika itu penyebabnya, maka obat satu-satunya adalah beristighfar dan bertobat. 
Allah berfirman yang mengisahkan seruan Nabi Hud AS., kepada kaumnya: 

وَيَٰقَوۡمِ ٱسۡتَغۡفِرُواْ رَبَّكُمۡ ثُمَّ تُوبُوٓاْ إِلَيۡهِ يُرۡسِلِ ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡكُم مِّدۡرَارٗا وَيَزِدۡكُمۡ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمۡ وَلَا تَتَوَلَّوۡاْ مُجۡرِمِينَ ٥٢ 
Artinya : 
“Dan (Dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa." (QS. Hud : 52). 

Sekali lagi, tiada kehidupan yang sepi dari tantangan dan godaan. Agar kita tetap tegar dan selamat dalam berbagai gelombang kehidupan, oleh karena itu kita sebagai seorang Muslim harus memiliki dan melakukan Tiga Amalan Baik di atas yaitu Istiqomah, Istikharah dan Istighfar. 

Jangan Pernah Tinggalkan Sholat



     DI ZAMAN yang semakin dekat dengan hari akhir ini, kita menyaksikan suatu fenomena memprihatinkan yang menimpa kaum muslimin, yaitu sebuah realita banyaknya orang yang mengaku beragama Islam namun tidak memahami hakikat agama Islam yang dianutnya, bahkan tingkah laku keseharian mereka sangatlah jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.
      Di antaranya adalah banyaknya kaum muslimin di masa sekarang yang mulai meremehkan dan menyia-nyiakan salat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani meninggalkannya dengan sengaja dan terang-terangan. Padahal dalam Agama Islam, salat memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi oleh ibadah lainnya. 
     Keistimewaan tersebut tergambar dengan peristiwa isra’ dan mi’raj dimana Rasullah menerima wahyu perintah salat. Setelah beliau sampai di Sidratul. Muntaha, Allah berbicara langsung kepada Rasulullah. Yang demikian itu menunjukkan bahwa betapa agung kedudukan ibadah salat dalam Islam, karena ia adalah tiang agama, di mana agama ini tidak akan tegak kecuali dengannya.
     Di zaman yang semakin dekat dengan hari akhir ini, kita menyaksikan suatu fenomena memprihatinkan yang menimpa kaum muslimin, yaitu sebuah realita banyaknya orang yang mengaku beragama Islam namun tidak memahami hakikat agama Islam yang dianutnya, bahkan tingkah laku keseharian mereka sangatlah jauh dari nilai-nilai Islam itu sendiri.
     Di antaranya adalah banyaknya kaum muslimin di masa sekarang yang mulai meremehkan dan menyia-nyiakan salat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang berani meninggalkannya dengan sengaja dan terang-terangan. Padahal dalam Agama Islam, salat memiliki kedudukan yang tidak bisa ditandingi oleh ibadah lainnya.
     Keistimewaan tersebut tergambar dengan peristiwa isra’ dan mi’raj dimana Rasullah menerima wahyu perintah salat. Setelah beliau sampai di Sidratul. Muntaha, Allah berbicara langsung kepada Rasulullah. Yang demikian itu menunjukkan bahwa betapa agung kedudukan ibadah salat dalam Islam, karena ia adalah tiang agama, di mana agama ini tidak akan tegak kecuali dengannya.
    Salat adalah ibadah yang pertama kali diwajibkan setelah ikhlas dan tauhid, sebagaimana Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam Al Qur’an surat Al-Bayyinah ayat 5

وَمَآ أُمِرُوْا إِلاَّ لِيَعْبُدُوْااللهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوْا الصَّلَوةَ وَيُؤْتُوْا االزَّكَوةَ وَذَلِكَ دِيْنُالْقَيِّمَةِ

Artinya : “Dan tidaklah mereka disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

     Salat juga merupakan amal pertama kali yang akan dihisab di Hari Kiamat kelak, di samping itu salat adalah wasiat terakhir Rasulullah kepada umatnya, sebagaimana telah diriwayatkan dari Ummu Salamah bahwasanya ia berkata,
     “Wasiat terakhir Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah ‘Kerjakanlah salat, Kerjakanlah salat, dan tunaikanlah kewajiban kalian terhadap budak-budak yang kalian miliki.” (HR. Ahmad)
     Salat adalah kebutuhan batin seorang hamba, layaknya makan dan minum sebagai kebutuhan lahirnya. Sehari saja manusia tidak makan, maka badannya akan terasa lemas dan tidak berdaya. Makan adalah kebutuhan manusia dan penopang kesehatan badannya. Kebutuhan jasmani terhadap makanan harus dipenuhi, sebagaimana kesehatan rohani juga harus dipenuhi.
    Jiwa orang yang melakukan salat akan mengalami ketenangan dan akan mendapatkan thuma’ninah dalam hidup. Berbeda dengan orang yang enggan salat. Hidupnya mengalami was-was, tidak tentang, ketakutan, dan selalu diganggu oleh setan. 



Organisasi Otonom Muhammadiyah

  MATERI 1  Organisasi Otonom Muhammadiyah Organisasi otonom Muhammadiyah terdiri dari 7 bagian, yakni Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyia...