Sunday, April 26, 2026

 Profil Sutomo  (Bung Tomo)




A. Profil Sutomo  (Bung Tomo)

    Sutomo (3 Oktober 1920 – 7 Oktober 1981), juga dikenal sebagai Bung Tomo, adalah seorang pemimpin revolusioner dan militer Indonesia yang terkenal karena perannya dalam Revolusi Nasional Indonesia melawan pemerintahan kolonial Belanda. Dia memainkan peran sentral dalam Pertempuran Surabaya, yang terjadi antara pasukan Britania Raya dan Indonesia dari bulan Oktober hingga November 1945.

    Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, priyayi golongan menengah yang pernah bekerja sebagai pegawai pemerintah, staf perusahaan swasta, asisten kantor pajak, hingga pegawai perusahan ekspor-impor Belanda.

    Walaupun dibesarkan dalam keluarga yang sangat menghargai pendidikan, tetapi pada usia 12 tahun, Sutomo terpaksa meninggalkan bangku MULO akibat dampak Despresi Besar yang melanda dunia. Untuk membantu keluarga, ia mulai bekerja secara serabutan. Meski begitu, belakangan Sutomo bisa masuk HBS secara korespondensi dan tercatat sebagai murid.


B. Kiprah Dr. Soetomo dalam Ber-Muhammadiyah

    Bung Tomo (Sutomo) memiliki kedekatan historis dengan Muhammadiyah, terutama melalui sinergi perjuangan di Surabaya. Ia terhubung dengan kekuatan sipil Islam, termasuk tokoh-tokoh Muhammadiyah, dalam mengobarkan semangat "Allahu Akbar" dan takbir di Radio Pemberontakan, serta pernah berkunjung ke kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Berikut adalah profil dan jejak keterkaitan Bung Tomo dengan Muhammadiyah:

  • Sinergi Perjuangan: Bung Tomo tidak berjuang sendiri. Dalam mempertahankan kemerdekaan, ia berkolaborasi dengan elemen sipil Islam, termasuk kader-kader Muhammadiyah yang aktif dalam pergerakan di Surabaya.
  • Kunjungan ke Muhammadiyah: Berdasarkan arsip surat kabar Al Jihad (1946), Bung Tomo pernah berkunjung ke kantor Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta dan disambut hangat oleh tokoh Muhammadiyah, Ki Bagus Hadikoesoemo.
  • Semangat Religiusitas: Orasi Bung Tomo yang membakar semangat di radio sering kali menyisipkan kalimat takbir, yang searah dengan semangat dakwah dan jihad para pejuang Muslim di bawah naungan organisasi Islam.
  • Pahlawan Nasional: Bung Tomo diakui sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2007, dan kisahnya sering diangkat dalam literatur Muhammadiyah sebagai teladan kepahlawanan.


C. Pertempuran 10 November 1945

    Pada 1944, ia terpilih menjadi anggota "Gerakan Rakyat Baru" dan pengurus "Pemuda Republik Indonesia" di Surabaya, yang disponsori Jepang. Setelah ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial, inilah titik awal keterlibatannya dalam Revolusi Nasional Indonesia. Dengan posisinya itu, ia bisa mendapatkan akses radio yang lantas berperan besar untuk menyiarkan orasi-orasinya yang membakar semangat pemuda dan rakyat.

    Kemudian, sejak 12 Oktober 1945 Bung Tomo juga menjadi pemimpin "Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia" (BPRI) di Surabaya melawan pasukan Inggris yang membantu pasukan pendudukan Belanda (NICA). Meskipun pada Pertempuran Surabaya 10 November 1945, akhirnya pihak Indonesia kalah, tetapi rakyat Surabaya dianggap berhasil memukul mundur pasukan Inggris untuk sementara waktu (pasukan Inggris mundur dari Indonesia pada November 1946) dan kejadian ini dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah sebagai titik awal Revolusi Nasional Indonesia.


Thursday, April 23, 2026

Cinta Kepada Rasulullah

MATERI 1

A. Dalil Aqli dan Dalil Naqli Cinta Kepada Rasul

QS Ali Imron : 31

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Qul ing kuntum tuḥibbụnallāha fattabi'ụnī yuḥbibkumullāhu wa yagfir lakum żunụbakum, wallāhu gafụrur raḥīm. 
Artinta : "Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)
Kandungan dan Tafsir Ayat
  • Hakikat Cinta: Cinta sejati kepada Allah bukan sekadar klaim, melainkan diwujudkan melalui ketaatan dan meneladani Rasulullah SAW dalam perkataan, perbuatan, dan ketetapan.
  • Balasan (Yuhbibkumullah): Mengikuti Sunnah Rasulullah adalah jalan untuk mendapatkan cinta Allah dan ampunan atas dosa-dosa.
  • Asbabun Nuzul: Ayat ini turun sebagai jawaban atas klaim sekelompok orang yang mengaku mencintai Allah, sehingga Allah menurunkan ayat ini sebagai bukti autentik kecintaan tersebut.

QS. An-Nisa : 80 

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًاۗ

Manyaṭiʿir-rasūla faqat aṭā'allāh(a), wa man tawallā famā arsalnāka 'alaihim ḥafīẓā(n). 
Artinya : "Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barangsiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka."

Poin Penting/Tafsir:
  • Ketaatan Mutlak: Menaati Nabi Muhammad adalah bentuk ketaatan langsung kepada Allah karena Rasul hanya menyampaikan wahyu-Nya.
  • Tugas Rasul: Nabi Muhammad diutus untuk menyampaikan risalah (menyampaikan ajaran), bukan sebagai pengawas atau pemelihara (penjaga) amal perbuatan manusia.
  • Konsekuensi Berpaling: Orang yang berpaling dari ajaran Rasul akan menanggung dosanya sendiri, dan Allah tidak menjadikan Nabi bertanggung jawab atas perbuatan mereka


B. Makna Cinta Kepada Rasul

    Makna cinta kepada Rasulullah SAW adalah menempatkan beliau di atas cinta kepada diri sendiri dan makhluk lain, yang diwujudkan melalui ketaatan total, mengikuti sunnah, serta menghidupkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari. Cinta kepada Rasul berarti mencintai Rasul dengan sepenuh hati kepada Rasul dan berusaha untuk melaksanakan apa yang Rasul perintahkan.Ini bukan sekadar perasaan, melainkan aplikasi nyata dalam bentuk kepatuhan perintah, menjauhi larangan, dan memperbanyak shalawa

C. Makna & Hakikat Cinta (Mahabbah) Kepada Rasulullah
  1. Ittiba' (Mengikuti Sunnah): Menjadikan Rasulullah sebagai teladan utama dalam ibadah, akhlak, dan muamalah.
  2. Ketaatan Mutlak: Mematuhi ajaran yang dibawa dan menjauhi apa yang dilarang.
  3. Pembelaan Syariat: Membela ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah.
  4. Kekaguman & Kerinduan: Tumbuh dari pengenalan (makrifah) terhadap sosok, kisah hidup, dan perjuangan Nab





Wednesday, April 22, 2026

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) 

Pahlawan Penggerakan Pendidikan


Foto Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)


A. Profil Siti Walidah

Saya titipkan Muhammadiyah dan Aisyiyah kepadamu sebagaimana almarhum Kiai Haji Ahmad Dahlan menitipkannya. Menitipkan, berarti melanjutkan perjuangan umat Islam Indonesia ke arah perbaikan hidup bangsa Indonesia yang berdasarkan cita-cita luhur mencapai kemerdekaan.”

    Itulah pesan-pesan yang diucapkan Siti Walidah tak lama sebelum wafat Siti Walidah meninggal pada 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman,

    Siti Walidah (1872–1946), atau lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, adalah pahlawan nasional Indonesia dan tokoh emansipasi perempuan perintis pendidikan Islam. Istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, ini mendirikan organisasi perempuan 'Aisyiyah pada 1917 untuk memberdayakan perempuan melalui pendidikan, pengajian, dan keterampilan sosial di Yogyakarta.

    Siti Walidah dilahirkan pada tahun 1872 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah putri dari seorang ulama dan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta bernama Kyai Haji Muhammad Fadli. Lingkungan tempat tinggal dari Siti Walidah dihuni oleh para tokoh agama dari keraton. Dia bersekolah di rumah, diajarkan berbagai aspek tentang Islam, termasuk bahasa Arab dan Al-Qur'an. Dia membaca Al-Qur'an dalam naskah Jawi.

    Siti Walidah menikah dengan sepupunya yakni Ahmad Dahlan. Saat Ahmad Dahlan sedang sibuk-sibuknya mengembangkan Muhammadiyah saat itu, Siti Walidah mengikuti suaminya dalam perjalanannya. Namun, karena beberapa dari pandangan Ahmad Dahlan tentang Islam dianggap radikal, pasangan ini kerap kali menerima ancaman. Misalnya, sebelum perjalanan yang dijadwalkan ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mereka menerima ancaman pembunuhan dari kaum konservatif di sana


Sejarah Berdiri Aisyiyah dan Kiprah Siti Walidah

    Setelah Muhammadiyah berdiri, Ahmad Dahlan juga memberikan perhatian khusus pada kemajuan perempuan. Kepiawaian Siti Walidah  dalam berorganisasi dirintisnya dalam kelompok pengajian wanita dengan nama Sopo Tresno pada 1914. Dalam pengajian itu, diterangkan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis yang membahas hak dan kewajiban perempuan. Perempuan diharapkan dapat mengetahui dan menerapkan kewajibannya sebagai manusia, istri, dan hamba Allah. Dengan mengajarkan membaca dan menulis melalui Sopo Tresno, pasangan ini memperlambat kristenisasi di Jawa melalui sekolah yang didukung oleh pemerintah Hindia Belanda.

    Bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya, Siti Walidah membahas peresmian Sopo Tresno sebagai kelompok perempuan. Menolak proposal pertama, Fatimah, mereka memutuskan mengganti nama menjadi Aisyiyah, berasal dari nama istri Nabi Muhammad, yakni Aisyah. Kelompok baru ini, diresmikan pada tanggal 22 April 1917, dengan Siti Walidah sebagai ketuanya. Lima tahun kemudian organisasi ini menjadi bagian dari Muhammadiyah.

    Selanjutnya pada tanggal 5 Januari 1922 Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah. Organisasi yang semakin sistematis itu kemudian mengembangan berbagai program pembinaan dan pendidikan wanita. Melalui Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan. Kemudian pada tahun 1922, ia mendirikan mushola Aisyiyah pertama yang digunakan untuk sholat berjamaah para perempuan. Mushola ini juga memfasilitasi jemaahnya untuk belajar membaca, berdoa, dan sholat dengan fasih serta memberikan pengetahuan seputar keagamaan. Dia juga berkhotbah menentang kawin paksa. Dia juga mengunjungi cabang-cabang di seluruh Jawa. Berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang patriarki,





Tokoh Nasional dan Muhammadiyah Ki Bagus Hadi Kusumo




A. Profil Ki Bagus Hadikusuma

    Lahir dengan nama Raden Hidajat di Kampung Kauman, Yogyakarta pada 24 November 1890 (dalam penanggalan Hijriah: Senin, 11 Rabiul Akhir 1308) di pagi hari. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya, Raden Haji Lurah Hasjim adalah seorang abdi dalem di Keraton Yogyakarta. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. 

    Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqh dan tasawuf. Dalam usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi

    Ki Raden Bagus Hadikusumo (Ejaan Lama: Bagoes Hadikoesoemo) (24 November 1890 – 4 November 1954) adalah seorang pemuka agama dan politikus berkebangsaan Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di dunia politik, ia merupakan pendiri Partai Islam Indonesia (PII) pada 1938 dan Partai Masyumi di Yogyakarta pada 1943.


B. Karya dan Kiprah Ki Bagus Hadikusuma

  1. Ki Bagus aktif membuat karya tulis, antara lain:
  2. Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin,
  3. Risalah Katresnan Djati (1935),
  4. Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940),
  5. Poestaka Ichsan (1941), dan
  6. Poestaka Iman (1954).

    Beliau mendapat pendidikan sekolah rakyat (sekarang SD) dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

    Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

    Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansoer dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum Muhammadiyah yang ditinggalkannya.[4] Posisi ini dijabat hingga tahun 1953. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ia pernah berdebat sengit terkait dasar negara terutama terkait Piagam Jakarta.


Saturday, February 7, 2026

Teka Teki Silang Agama Islam dan Jawabannya

 Teka Teki Silang Agama Islam

(menambah wawasan terkait agama Islam)



Teka-teki silang adalah salah satu jenis permainan pikiran yang menarik dan menyenangkan. Butuh pikiran logis dan kreatif untuk menjawab setiap pertanyaan ini. Teka-teki silang pertanyaan dan jawaban adalah permainan yang tepat jika Anda ingin menantang kemampuan otak Anda.

Terdapat TTS (Teka Teki Silang) dengan tema Agama Islam secara umum. Diharapkan dengan TTS tersebut dapat menambah wawasan kita terkait Agama Islam secara umum. 

Nah, berikut adalah kumpulan teka-teki agama Islam beserta jawabannya. Ada yang mudah, ada yang sulit, dan ada juga jawabannya menjebak sesuai tingkat kesulitan yang berbeda-beda. 


TTS Iman Kepada Allah


TTS Iman Kepada Hari Akhir


KUNCI JAWABAN DAN TTS TERBARU AKAN DI UPDATE SELANJUTNYA
Silahkan tinggalkan komenjika ada sesuatu yang ditanyakan. 







 Profil Sutomo  (Bung Tomo) A. Profil Sutomo  (Bung Tomo)      Sutomo (3 Oktober 1920 – 7 Oktober 1981), juga dikenal sebagai Bung Tomo, ada...