Wednesday, April 22, 2026

Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) 

Pahlawan Penggerakan Pendidikan


Foto Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)


A. Profil Siti Walidah

Saya titipkan Muhammadiyah dan Aisyiyah kepadamu sebagaimana almarhum Kiai Haji Ahmad Dahlan menitipkannya. Menitipkan, berarti melanjutkan perjuangan umat Islam Indonesia ke arah perbaikan hidup bangsa Indonesia yang berdasarkan cita-cita luhur mencapai kemerdekaan.”

    Itulah pesan-pesan yang diucapkan Siti Walidah tak lama sebelum wafat Siti Walidah meninggal pada 31 Mei 1946 dan dimakamkan di belakang Masjid Gedhe Kauman,

    Siti Walidah (1872–1946), atau lebih dikenal sebagai Nyai Ahmad Dahlan, adalah pahlawan nasional Indonesia dan tokoh emansipasi perempuan perintis pendidikan Islam. Istri dari pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, ini mendirikan organisasi perempuan 'Aisyiyah pada 1917 untuk memberdayakan perempuan melalui pendidikan, pengajian, dan keterampilan sosial di Yogyakarta.

    Siti Walidah dilahirkan pada tahun 1872 di Kauman, Yogyakarta. Ia adalah putri dari seorang ulama dan bangsawan dari Kesultanan Yogyakarta bernama Kyai Haji Muhammad Fadli. Lingkungan tempat tinggal dari Siti Walidah dihuni oleh para tokoh agama dari keraton. Dia bersekolah di rumah, diajarkan berbagai aspek tentang Islam, termasuk bahasa Arab dan Al-Qur'an. Dia membaca Al-Qur'an dalam naskah Jawi.

    Siti Walidah menikah dengan sepupunya yakni Ahmad Dahlan. Saat Ahmad Dahlan sedang sibuk-sibuknya mengembangkan Muhammadiyah saat itu, Siti Walidah mengikuti suaminya dalam perjalanannya. Namun, karena beberapa dari pandangan Ahmad Dahlan tentang Islam dianggap radikal, pasangan ini kerap kali menerima ancaman. Misalnya, sebelum perjalanan yang dijadwalkan ke Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur mereka menerima ancaman pembunuhan dari kaum konservatif di sana


Sejarah Berdiri Aisyiyah dan Kiprah Siti Walidah

    Setelah Muhammadiyah berdiri, Ahmad Dahlan juga memberikan perhatian khusus pada kemajuan perempuan. Kepiawaian Siti Walidah  dalam berorganisasi dirintisnya dalam kelompok pengajian wanita dengan nama Sopo Tresno pada 1914. Dalam pengajian itu, diterangkan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis yang membahas hak dan kewajiban perempuan. Perempuan diharapkan dapat mengetahui dan menerapkan kewajibannya sebagai manusia, istri, dan hamba Allah. Dengan mengajarkan membaca dan menulis melalui Sopo Tresno, pasangan ini memperlambat kristenisasi di Jawa melalui sekolah yang didukung oleh pemerintah Hindia Belanda.

    Bersama suami dan beberapa pemimpin Muhammadiyah lainnya, Siti Walidah membahas peresmian Sopo Tresno sebagai kelompok perempuan. Menolak proposal pertama, Fatimah, mereka memutuskan mengganti nama menjadi Aisyiyah, berasal dari nama istri Nabi Muhammad, yakni Aisyah. Kelompok baru ini, diresmikan pada tanggal 22 April 1917, dengan Siti Walidah sebagai ketuanya. Lima tahun kemudian organisasi ini menjadi bagian dari Muhammadiyah.

    Selanjutnya pada tanggal 5 Januari 1922 Aisyiyah resmi menjadi bagian dari Muhammadiyah. Organisasi yang semakin sistematis itu kemudian mengembangan berbagai program pembinaan dan pendidikan wanita. Melalui Aisyiyah, Siti Walidah mendirikan sekolah-sekolah putri dan asrama, serta keaksaraan dan program pendidikan Islam bagi perempuan. Kemudian pada tahun 1922, ia mendirikan mushola Aisyiyah pertama yang digunakan untuk sholat berjamaah para perempuan. Mushola ini juga memfasilitasi jemaahnya untuk belajar membaca, berdoa, dan sholat dengan fasih serta memberikan pengetahuan seputar keagamaan. Dia juga berkhotbah menentang kawin paksa. Dia juga mengunjungi cabang-cabang di seluruh Jawa. Berbeda dengan tradisi masyarakat Jawa yang patriarki,





Tokoh Nasional dan Muhammadiyah Ki Bagus Hadi Kusumo




A. Profil Ki Bagus Hadikusuma

    Lahir dengan nama Raden Hidajat di Kampung Kauman, Yogyakarta pada 24 November 1890 (dalam penanggalan Hijriah: Senin, 11 Rabiul Akhir 1308) di pagi hari. Ia merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Ayahnya, Raden Haji Lurah Hasjim adalah seorang abdi dalem di Keraton Yogyakarta. Ia putra ketiga dari lima bersaudara Raden Haji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta. 

    Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqh dan tasawuf. Dalam usia 20 tahun Ki Bagus menikah dengan Siti Fatmah (putri Raden Haji Suhud) dan memperoleh enam anak. Salah seorang di antaranya ialah Djarnawi Hadikusumo, yang kemudian menjadi tokoh Muhammadiyah dan pernah menjadi orang nomor satu di Parmusi

    Ki Raden Bagus Hadikusumo (Ejaan Lama: Bagoes Hadikoesoemo) (24 November 1890 – 4 November 1954) adalah seorang pemuka agama dan politikus berkebangsaan Indonesia yang dikenal sebagai salah satu anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di dunia politik, ia merupakan pendiri Partai Islam Indonesia (PII) pada 1938 dan Partai Masyumi di Yogyakarta pada 1943.


B. Karya dan Kiprah Ki Bagus Hadikusuma

  1. Ki Bagus aktif membuat karya tulis, antara lain:
  2. Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin,
  3. Risalah Katresnan Djati (1935),
  4. Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940),
  5. Poestaka Ichsan (1941), dan
  6. Poestaka Iman (1954).

    Beliau mendapat pendidikan sekolah rakyat (sekarang SD) dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

    Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

    Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansoer dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum Muhammadiyah yang ditinggalkannya.[4] Posisi ini dijabat hingga tahun 1953. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ia pernah berdebat sengit terkait dasar negara terutama terkait Piagam Jakarta.


Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan)  Pahlawan Penggerakan Pendidikan Foto Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan) A. Profil Siti Walidah “ Saya titipk...